ganjarkurnia.unpad.ac.id


Ganjar Kurnia

KERAK

Posted in sosial budaya by Ganjar Kurnia on the October 10th, 2008

Dengan suaranya yang merdu, Bimbo pun berdendang: “waktu Tuhan tersenyum lahirlah Pasundan”. Suatu ungkapan indah yang keluar dari kelompok pemusik yang agamis dan terpelajar tentu bukanlah hanya sekedar nyap-nyap tanpa makna. Proses kontemplasi, rasa kagum dan sekaligus rasa syukur terhadap “keindahan” dan “kesubur makmuran” tanah Pasundan bisa jadi merupakan pendorong bagi Bimbo untuk mengungkapkannya dalam syair lagu tersebut. Tanah Sunda memang mempunyai hampir seluruh prasyarat untuk dikagumi. Dari segi bahasa ( bahasa sansekerta), konon Sunda itu artinya bersinar atau terang;dalam bahasa kawi ( diantaranya) berarti air - - alias tanah yang subur; sedangkan dalam bahasa Sundanya sendiri, ada yang mengatakan bahwa Sunda dari kata sunda, yang artinya bagus menyenangkan. Ada pula yang mengatakan bahwa Sunda itu berasal dari kata sundara yang berarti kasep, geulis, tegep, alus, punjul, atau indah. Untuk arti indah ini, salah seorang istri Prabu Siliwangi menggunakannya menjadi nama diri, yaitu Nyai Mantri Manik Mayang Sunda (nyai mantri permata ciptaan nan indah).
Adalah wajar dan alami, apabila kepada yang kasep, geulis, tegep, alus, punjul dan indah, banyak orang yang naksir, bahkan ingin mempersunting dan memiliki. Tatar Sunda pun tidak akan luput dari orang-orang jelalatan yang mengincarnya. Apabila dengan lokasinya yang sangat strategis - - sebagai penyangga ibu kota — tatar Sunda telah membuat orang-orang berkocek tebal terangsang untuk berinventasi, industripun dibangun dan bertebaran di mana-mana bahkan diantaranya telah dan mungkin akan terus melahap lahan sawah beririgasi teknis melalui proses konversi. Untuk tahun 1996/1997 ini, konon investasi tertinggi di republik ini berada di Jawa Barat alias di tatar Sunda. Suatu hal untuk hitung-hitungan makro wajib disyukuri, namun untuk yang mikro tentu masih perlu dicermati, terutama dalam kaitannya dengan penyerapan tenaga kerja lokal.
Adalah wajar dan alami pula, apabila selain karena secara alami Jawa Barat memang memiliki daya tarik, ditambah lagi dipupur dengan hasil pembangunan dalam bemtuk industrialisasi dan berbagai fasilitas lainnya (termasuk fasilitas pendidikan favorit), pada akhirnya Jawa Barat menjadi sasaran utama arus migrasi di negeri ini.
Sensus penduduk tahun 1990 menunjukan bahwa kontribusi migrasi netto terhadap Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Jawa Barat cukup signifikan, yaitu 0,6% (dari Laju Pertumbuhan Penduduk sebesar 2.57%). Angka migrasi neto ini, akan lebih seru lagi apabila dilihat di daerah-daerah di mana industrialisasi tengah berjalan pesat, seperti di daerah Bogor, Bekasi, dan Bandung Raya. Salah satu bukti tingginya migrasi masuk ke daerah-daerah tersebut, adalah tingginya arus mudik ke propinsi lain pada saat menjelang lebaran atau Pemilu. Kalau jeli memasang telinga di kantong-kantong industri ini, konon bahasa Sunda - - sebagai bahasa penganatar - - kalau terdengar oleh suara bahasa daerah lainnya.
Secara hukum, sebenarnya syah-syah saja kalau semua orang ingin mencari hidup di Jawa Barat nan indah ini. Undang-undang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera menyebutkan bahwa “pindah” termasuk salah satu hak warga negara. Karenanya, tidak ada ceritera untuk mereka yang punya ide menjadikan suatu propinsi atau suatu kota menjadi suatu wilayah tertutup. Hanya saja, semakin banyaknya para pendatang ini, semakin mempertajam persaingan pendapatan pekerjaan, terutama bagi penduduk lokal. Tidak ada pendatang saja, mencari pekerjaan itu sulit, apalagi sekarang ditambah dengan berbondong-bondongnya orang dari luar. (more…)

SAJAK GEDEBUL

Posted in kesenian by Ganjar Kurnia on the October 10th, 2008

Umbul-umbul nu rentul
dina tutunggul wadul
ngélébétkeun rahul

Kecap-kecap – kécap
muncrat tina ilat-ilat; bau
hangru kakawasaan
ngabanjiran nagri
ngancurkeun bangunan
ngaruntagkeun jambatan

(terus dijaradikeun proyék pikeun nawur hutang
mangsa pilihan)

Jangji-jangji nu diobral
dina panggung kabohongan
ceuhil huntu pulitik kapentingan
nu awor ku gaur knalpot aleutan abringan dukungan

Para pamingpin katorékan
Kereteg haté nu nyaroblos harepan
ukur hawar-hawar dijadikeun pertimbangan

Mangsa géol ngebor dangdut pulitik beuki maceuh
kapeurih jeung kateupercayaan ngajeroan

Bari ngajogédan kasusah,
Rahayat seuri sinis
terus nonggéngan

Cigadung 20 September 2008

NASIONALISME RASIONAL

Posted in sosial budaya by Ganjar Kurnia on the October 10th, 2008

Kalaulah sukma yang sudah terpisah dari raga para syuhada bangsa diberi kesempatan melanglang ke alam nyata, entah apa komentar mereka tentang 100 tahun kebangkitan nasional dan 63 tahun Indonesia merdeka. Dimanakah posisi Indonesia sekarang di dalam konteks apa yang mereka cita-citakan. Korupsi berjamaah, rusaknya lingkungan (terutama hancurnya hutan), masih tingginya jumlah penduduk miskin, para penegak hukum yang justru tidak menegakkan hukum, menggelembungnya hutang luar negeri, krisis budaya adalah contoh-contoh dari keprihatinan bangsa. Dari sisi ekonomi, Amien Rais menyebutnya sebagai pengulangan sejarah dari zaman penjajahan. Indonesia sudah kehilangan kemandirian dan kedaulatan ekonomi, karena dalam banyak hal tetap tergantung dan menggantungkan diri pada kekuatan asing.
Dalam konteks usia berbangsa dan negara, banyak negara yang sudah menyalip Indonesia. Sebagian diantaranya, merdeka setelah mendapat semangat dari Konfrensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung. Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Singapur dan sekarang Vietnam adalah merupakan contoh-contoh yang nyata.
Pembukaan UUD 1945 sebagai kerangka makro dari cita-cita bangsa tentu harus diisi dan dijabarkan di dalam tataran nyata kehidupan dengan visi dan indikator-indikator terukur. Ada kesan bahwa setelah reformasi, arah masa depan atau visi Indonesia tidak terumuskan dengan jelas. Jelek-jeleknya zaman Orde Baru, masih mempunyai tahapan Repelita, yang walaupun di dalam pelaksanaannya banyak digerogoti dengan kepentingan pribadi dan golongan tertentu, namun minimal ada sesuatu kejelasan tentang sesuatu yang dicita-citakan dengan tahapan-tahapan yang harus dilakukannya. Visi dapat menjadi arah bagi setiap warga negara, terutama lembaga-lembaga pemerintahan di dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Tanpa visi yang jelas dan kapan ingin dicapainya, maka apa yang dilakukan bisa hanya berkutat di dalam stagnasi, atau di dalam istilah Ciliford Geertz, involusi. Di dalam konteks otonomi dan desentralisasi beberapa daerah telah memiliki visi sendiri-sendiri. Apabila tidak didudukkan di dalam kerangka visi nasional, apa yang dilakukan daerah tersebut dihawatirkan berada di luar koridor kepentingan nasional, yang ujung-ujungnya dapat mengarah kepada terguncangnya keutuhan NKRI. (more…)

MENGENANG KATA “INSAF”

Posted in Agama by Ganjar Kurnia on the May 10th, 2008

Setiap tanggal 4 Mei, Pelajar Islam Indonesia (PII) memperingati Hari Bangkit (Harba). Salah satu kenangan yang tak akan luput dari ingatan, adalah ketika pertama kali mengikuti Basic Training di PII, diperkenalkan kepada kata pertama di dalam Mukadimah Anggaran Dasar, yang berbunyi “ Insaf”. Kata “insaf” tersebut kemudian diperdebatkan sampai berjam-jam; yang hasilnya berupa kesepakatan bahwa kata insaf bukanlah hanya mengandung arti kesadaran terhadap sesuatu, tetapi lebih jauhnya dari itu, yaitu suatu kesadaran yang ditindak lanjuti dengan prilaku yang harus sesuai dengan makna keinsfan itu sendiri. Insaf bukanlah kata yang menunjukkan prilaku pasif. Insaf adalah keaktifan bertindak yang didasari oleh nilai-nilai luhur dengan tujuan-tujuan yang luhur (more…)

SOSIALISASI “CLIMATE CHANGE” DI INDONESIA

Posted in Uncategorized by Ganjar Kurnia on the April 23rd, 2008

1. Ada kesan bahwa isyu “climate change” masih berada pada tataran dunia dan nasional. Walaupun media massa di Indonesia sudah sering memberitakan, namun “getar” nya belum cukup meluas di masyarakat umum. Pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap masalah ini relatif kurang – termasuk di dunia kampus.

2. Untuk itu diperlukan sosialisasi yang luas dan terus menerus, terutama kepada pemerintah daerah, dunia usaha dan kalangan terdidik yang untuk selanjutnya kepada masyarakat umum.

3. Kegiatan di Bali pada bulan Desember 2007 dapat dijadikan momentum di dalam upaya mensosialisasikan substansi dan permasalahan ”climate change”.

4. Penekanan sosialisasi terhadap pemerintah daerah, terkait dengan otonomi/disentralisasi pemerintahan; berbagai kebijakan dan langkah oprasional yang notabene bisa menjadi masalah “climate change” sangat ditentukan di daerah. Pemerintah pusat diharapkan memiliki kebijakan formal, regulasi dan rencana aksi yang jelas dan terukur, serta berperan di dalam koordinasi, evaluasi dan kontrol, baik terhadap dapartemen, daerah, dunia usaha maupun masyarakat secara keseluruhan.

5. Perlu penanganan yang lebih nyata dan terpublikasikan dengan baik, terhadap kasus-kasus yang terkait dengan faktor-faktor penyebab “climate change”.

6. Agar masyarakat merasakan bahwa “climate change” sebagai masalah, maka perlu diinformasikan kondisi nyata “climate change” dan dampaknya yang sudah dan akan terjadi terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.

7. Peta permasalahan, selain dibuat pada tataran global dan nasional, juga harus dibuat sampai tingkat daerah dan masyarakat. Hal ini untuk menunjukkan bahwa “climate change” adalah masalah nyata yang dampaknya (sudah) dirasakan baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat. Melakukan kegiatan untuk menyelamatkan bumi, seharusnya didasarkan atas dasar kesadaran diri sendiri dan bukan karena ada tekanan global atau negara maju.

8. Selain masalah nyata dampak “climate change” pada saat ini, perlu pula dibuat prediksi pada tataran lokal dan nasional tentang dampak “climate change” di masa depan – terutama – apabila tidak melakukan upaya apapun. Hal ini terkait dengan “perencanaan” antisipatif terhadap dampak, penyusunan langkah-langkah adaptasi dan aksi lainnya.
9. Melalui pendekatan antisipatif, masyarakat disiapkan untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan yang akan terjadi. Untuk hal ini diperlukan data dan peta dasar yang akurat untuk membuat prediksi, skenario, antisipasi dan aksi apabila terjadi dampak.

10. Perlu kejelasan lembaga pengelola dan penginformasi data.

11. Perlu perencanaan Sumber Daya Manusia melalui pendidikan lanjutan di Luar Negeri (terutama) dan penelitian yang terkait dengan lingkungan. Teknologi dimaksud mencakup : penemuan cara yang efektif pemanfaatan sumberdaya alam yang ada agar sesuai kaidah lingkungan, penyesuaian/perubahan/penggantian moda teknologi yang sedang berjalan (yang tidak ramah lingkungan) dengan yang lebih ramah lingkungan; energi alternatif ramah lingkungan, infra struktur, teknologi adapatif dan antisipatif perubahan lingkungan.

12. Selain penelitian pangan dan obat-obatan, penelitian tentang teknologi lingkungan harus menjadi prioritas utama. Sesuai dengan tingkatannya, isyu tentang ”Climate change” diajarkan mulai dari TK hingga Universitas. Substansi dari pengajaran, adalah kesadaran lingkungan, adaptasi dan langkah-langkag aksi apabila ada kejadian. Di universitas yang memiliki SDM memadai, diharapkan ada studi-studi yang mendalam tentang hal-hal yang terkait dengan ”climate change”, terutama yang bersifat teknologis.

13. Kebutuhan dan skala prioritas penelitian tentang ”Climate Change” dipetakan, dirancang dan dikoordinasikan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Menristek dengan melibatkan ”stakeholders” terkait. Penelitian dilaksanakan di berbagai lembaga penelitian dan universitas secara spesifik dan terspesialisasi dengan mempertimbangkan kepakaran yang dimiliki dan spesifikasi lokasi . Dengan tetap memperhatikan jaringan keilmuan, satu lembaga melakukan satu topik besar penelitian secara utuh menyeluruh dan tuntas.

14. ”Transfer of technology” hendaknya didudukkan di dalam kerangka ”transfer of knowledge”, sehingga teknologi yang digunakan di lapangan dapat terdifusi kepada seluruh masyarakat, khususnya lembaga penelitian dan pendidikan tinggi.

15. Untuk perijinan usaha yang baru, teknologi ramah lingkungan harus menjadi persyaratan utama. Untuk usaha yang sudah berjalan, sedikit demi sedikit diharapkan dapat melakukan perubahan teknologi ke arah yang ramah lingkungan. Diperlukan penentuan masa transisi menuju penggunaan teknologi lingkungan yang betul-betul bersih.

16. Dengan langkah nyata yang dilakukan, diharapkan akan menjadi modal dasar sebagai pembuktian kepada dunia, bahwa Indonesia memiliki kesadaran diri sendiri (bukan atas desakan pihak lain) sehingga serius di dalam menangani dan menghadapi ”Climate Change”.

Posted in Uncategorized by Ganjar Kurnia on the April 23rd, 2008

POTENSI POLITIK PARA LANSIA

Posted in Uncategorized by Ganjar Kurnia on the April 23rd, 2008

Seorang kawan yang terpilih dalam salah satu pemilihan mengeluh, karena walaupun ia mendapat suara terbanyak, namun karena rangking satu sampai tiga dari hasil pemilihan tersebut harus diusulkan lagi “ke atas” untuk ditetapkan (sesuai dengan kriteria atau mungkin juga selera atasan), maka sang kawan tersebut terpaksa harus gigit jari; pilihan atasan jatuh ke rangking nomor dua. Bersamaan dengan kekecewaan yang mendalam, agenda pertanyaanpun kemudian memberondong dari mulutnya. Mulai dari apa salahku?” sampai pertanyaan yang sangat pilosofis dan fundamental: “demokrasi macam apa yang kita mainkan?”.
Sepuluh tahun kemudian, pada pemilihan berikutnya, sang kawan bukan hanya terpilih kembali sebagai rangking pertama oleh “grass root”, tapi juga mendapat restu atasan, sehingga jabatan yang pernah ada di pelupuk matanya, sekarang benar-benar menjadi kenyataan. Alhamdulillah.
Waktupun terus bergulir tiba-tiba ada seorang kawan lain yang datang dengan keluhan yang persis sama dengan kawan pertama tadi. Sebagai orang yang terpilih dengan suara terbanyak, ternyata kawan yang terakhirpun tidak disetujui untuk menduduki jabatan tersebut oleh atasannya. Ketika ditanyakan, siapa kah nama atasannya itu?. (more…)

TRANSPARANSI MODEL RUSMIN

Posted in sosial budaya by Ganjar Kurnia on the April 1st, 2008

Rusmin ( 60 tahun ) penduduk dusun Sarangan Kecamatan Keranggan, Kabupaten Temanggun, Jawa Tengah mempunyai kebiasaan yang aneh. Sejak usia 20 tahun atau kurang lebih sudah empat puluh tahun, Rusmin tinggal di rumahnya yang hanya memiliki atap, tetapi tidak berdinding sama sekali.
Kebiasaan aneh ini dimulai ketika Rusmin sang buruh tani, ingin merubah nasib hidupnya yang gurem. Sebagai petani ladang dan pemetik buah kelapa, tentu saja penghasilan Rusmin tidak seberapa dan sangat jauh dari cukup. Padahal sebagai kepala keluarga, Rusmin pun dituntut tanggung jawabnya untuk dapat menghidupi kebutuhan anak dan istrinya. Suatu tanggung jawab yang tentu — harus – dipikul oleh siapapun, tanpa pandang bulu, baik oleh mereka yang super gurem sampai yang super konglomerat.
Mungkin karena Rusmin sempat ngaji bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang, kecuali apabila orang itu merubah nasibnya, hati Rusmin pun tergerak untuk mencari pekerjaan atau penghidupan lain. Karena kala itu belum musim TKI-TKIan , di dalam keguremannya, Rusmin masih bisa melihat prospek yang lebih cerah di desa tetangganya. Dengan semangat minadzulumaati ilannur ( habis gelap terbitlah terang), Rusmin pun memutuskan untuk hijrah – bedol keluarga – ke desa tetangga tersebut.
Harapan indah di desa ini, apa hendak dikata ternyata hanya sekedar harapan. Keinginan hanya tinggal keinginan dan usahapun tinggal usaha. Nasib menentukan lain. Kebetulan sekali ( atau karena keguremannya – Rusmin tidak bisa memperhitungkan resiko-resiko lain dari kepindahannya ) pada saat pertama Rusmin pindah di desa baru tersebut seringkali terjadi percurian, perampokan dsb. Lalu siapa lagi yang mudah dituduh kalau bukan sang pendatang baru tersebut. Walaupun tidak pernah tertangkap basah dan tidak cukup bukti, sehingga Rusmin tidak bisa digiring ke pengadilan, namun apapun kelitannya – tuduhan – dari masyarakat terus bertubi. Rusmin gurem pun akhirnya kehilangan akal ( atau bahkan dapat akal? ); bahwa satu-satunya cara untuk bisa menepis tuduhan masyarakat tetangganya tersebut adalah dengan membongkar dinding rumahnya secara keseluruhan.
Dengan rumah yang transparan ini Rusmin berharap bahwa seluruh anggota masyarakat dapat pula melihat secara transparan, seluruh harta kekayaannya ; apa saja aktivitasnya; kemana saja ngeloyornya dsb. Sikap bertransparan ria ini terus berlanjut sampai sekarang, sehingga orang-orangpun dapat melihat bahwa kekayaan rusmin dan keluargaannya hanyalah badannya sendiri. Rusmin tidak punya apa-apa, termasuk perabotan rumah tangga sekalipun. Rusmin tidak punya meja. Rusmin tidak punya kursi. Rusmin tidak punya lemari, Rusmin tidak punya tempat tidur, karena untuk tidur ini pun Rusmin dan keluargaanya cukup beralaskan daun kelapa kering. Sungguh suatu pembelaan harga diri yang dahsyat dan penuh pengorbanan. Selama masa pertapaannya yang empat puluh tahun tersebut, Rusmin terpaksa harus kehilangan lima orang anaknya berangkat ke alam baka ( sekarang tinggal empat); mungkin karena mereka tidak tahan dengan serbuan panas dinginnya udara ( namun demikian, khusus untuk hal punya anak, sampai sembilan ini sempat juga menjadi guyonan — karena ditengah-tengah ketrasparanan yang Rusmin lakukan, ternyata iapun tetap saja bisa menjadi “ pencuri sejati”; yaitu “pencuri” waktu untuk berkhidmat dengan istrinya tercinta). (more…)

NILAI DAN PRAKTEK KESHALEHAN SOSIAL

Posted in Agama by Ganjar Kurnia on the April 1st, 2008

“Babakuna jalma kudu rea batur
Keur silih tulungan
Silih titipkeun nya diri
Budi akal lantaran ti pada jalma”

Judul di atas selain mengandung beberapa konsep yang perlu dideskripsikan lebih lanjut, juga memerlukan pemahaman yang menyangkut keterkaitan antar konsep. Menurut Richard T. Schaefer (1989), nilai yang di dalam bahasa Inggris disebut “Values” adalah :“ collective conceptions of what considered good, desirable, and proper or – bad, undesirable and improper – in culture” . Untuk hubungan antara nilai dengan “praktek” (baca: prilaku) Richard T. Schaefer menyatakan bahwa : “values influence people’s behaviour and serve as criteria for evaluating the actions of others”. Apa yang dikemukakan oleh Schaefer tersebut didasarkan kepada asumsi bahwa “nilai” sudah “internalized”. Sebab pada kenyataannya “nilai” sebagai “considered good …………..”, bisa saja hanya berada dalam tataran pemikiran, kata-kata atau sesuatu yang dianggap normatif belaka, atau “nilai” tersebut kalaupun ada, keberadaannya dalam keadaan “dormant” atau tidur; dan tidak diketahui lagi oleh masyarakat. Sebagai contoh, “dangding” di atas pada dasarnya merupakan suatu “nilai”, karena mengajarkan tentang pentingnya pertemanan, tolong menolong, saling menitipkan diri dan mengemukakan bahwa budi dan akal itu berasal dari sesama manusia. Pertanyaannya adalah, apakah kita terutama generasi muda masih mengenal “dangding” tersebut?. Bagaimana akan tahu, karena “dangding” semacam itu sudah tidak diajarkan lagi di sekolah-sekolah atau di rumah-rumah oleh para orang tua. Selain dalam bentuk “dangding” yang ditembangkan dengan pupuh, “nilai” budaya Jawa Barat yang terkait dengan berbagai hal – termasuk – keshalehan sosial dapat terlihat dari berbagai “paribasa” atau “babasan” atau ceritera rakyat yang notabene disampaikan dengan menggunakan basa daerah.
Adapun “praktek” yang dilakukan individu atau masyarakat, sebagai wujud dari “nilai” yang dianutnya, penelusuran terhadap sumber “nilai”nya sendiri cukup sulit. Ketika seseorang berprilaku sosial baik, kita sulit menerka “nilai” apakah dan “nilai” dari mana yang dianut? Untuk berprilaku baik, ada nilai-nilai yang bersifat universal. Ajip Rosidi seringkali mengemukakan bahwa orang-orang Jepang, dalam banyak hal jauh lebih islami dibanding orang Islam sendiri. Praktek islaminya orang Jepang, sudah barang tentu tidak berasal dari sosialisasi dan internalisasi ajaran Islam. (more…)

URANG TEH NUJU NGANTOSAN

Posted in Uncategorized by Ganjar Kurnia on the March 8th, 2008

Urang Teh Nuju Ngantosan

Urang teh nuju ngantosan
Rengsena sandiwara
Anu lalakonna diserat
Di loh mahfud
Mangsa sakeclak getih ngajanten daging:
Ditiup roh hirup - kahirupan

Ulang taun:
babak-babak liliwatan
samemeh bugang
dijajap kana liang panganjrekan anyar:
pajaratan

Sanajan
Hiliwir rampe jeung samboja
beuki atra
tanda lalakon tereh anjog kana
tutup lawang sigotaka
para pamaen anteng
kawas teu engeuh
yen
sandiwara tereh lekasan

Mangsa layar panggung
ditutup lalaunan
Kecap tahlil
Mirig cekleuk panungtungan, jeung
gaur ceurik pipisahan

Kasalahan-kasalahan ngalalakon
Salila sandiwara dunya lumangsung
Mo bisa dibalikan
(Tos aya seren sumeren padamelan
Ti Rokib – Atid ka Munkar – Nakir)

Urang teh nuju ngantosan!

Cimandiri 11 Februari 2008

Next Page »
replica handbags,louis vuitton handbags,chanel handbags,gucci handbags,designer replica handbags,replica hermes handbags,replica designer handbags,knockoff handbags,fake handbags,coach replica handbags,replica tag heuer watches,omega replica watches,breitling replica watches,replica hublot watches,replica ulysse nardin watches,replica rolex submariner,replica rolex yachtmaster,replica cartier watches,replica patek philippe watches,replica bell ross watches,replica a lange & sohne,replica panerai watches,replica iwc watches,replica u-boat watches,replica Chopard watches,replica Vacheron Constantin watches,Zenith watches,replica louis vuitton handbags,fake designer handbags,replica designer handbags,knock off designer handbags,replica designer bags,replica fendi handbags,Louis Vuitton,gucci handbags,chanel bags.